PENANGANAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN METODE RINDU BUAH HATIKU PADA BAYI PASCA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT

Main Article Content

Hisam Ashadi
Byba Melda Suhita

Abstract

Permasalahan bayi berat lahir rendah merupakan permasalahan kesehatan yang serius yang harus menjadi perhatian. Hal ini dikarenakan BBLR yang terjadi pada bayi berpotensi menjadi pemicu terjadinya kematian bayi. Tingginya angka kematian bayi yang terjadi menjadikan pemangku kebijakan di Indonesia menerapkan beragam kebijakan untuk mengatasi permasalahan BBLR secara hulu dan hilir. Pada wilayah kerja Puskesmas Krucil Kabupaten Probolinggo, angka kejadian BBLR cukup tinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari karakteristik yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Krucil Kabupaten Probolinggo itu sendiri. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai perawatan bayi dengan BBLR, kondisi lingkungan yang cukup ekstrim serta beragam keterbatasan lainnya yang dimiliki masyarakat menjadikan bayi dengan BBLR yang dilakukan perawatan di rumah seringkali mengalami komplikasi yang berujung dengan kematian bayi. Dari permasalahan komplek yang muncul akibat dari BBLR tersebut Puskesmas Krucil telah membuat suatu terobosan dimana setiap bayi BBLR yang telah selesai dirawat inap di NICU Rumah sakit harus kembali dirawat di puskesmas hingga berat badannya mencapai 2500 mg. Terobosan dari Puskesmas Krucil tersebut dikenal dengan nama RINDU BUAH HATIKU Atau Rawat Inap Dulu Buat Aku Hangat Hingga Aku Tidak Hipotermi di Puskesmas Krucil. Dalam evaluasinya kegiatan ini telah mampu menekan angka kematian bayi akibat BBLR sampai ketitik 0. Tujuan residensi ini secara umum adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis penanganan bayi dengan BBLR menggunakan metode rindu buah hatiku pada bayi pasca rawat inap di rumah sakit. Dari hasil pelaksanaan kegiatan didapatkan bahwasanya program RINDU BUAH HATIKU sudah mulai berjalan normal kembali pasca pandemic covid-19 dimana masyarakat dan berbagai komponen yang terlibat didalamnya antusias untuk memberikan kontribusi mereka dalam upaya pencapaian zero AKB di wilayah kerja Kabupaten Probolinggo

Article Details

Section
Articles